Refleksi Hari Pers Nasional, Merdekakah Para Wartawan dari UU ITE?

  • Whatsapp
SEKAT RI 'SELAMAT HARI PRES NASIONAL

Beberapa dekade silam pers sangat dibungkam oleh pemerintah, namun sekarang, pers sudah bisa menjadi bagian dari masyarakat.

Segala macam berita sudah bisa dilihat oleh masyarakat melalui media elektronik ataupun media cetak. Kebebasan pers inilah yang selalu diperingati setiap tanggal 9 Februari di berbagai daerah di Indonesia.

Dengan adanya Hari Pers Nasional ini atau yang biasa disingkat dengan HPN, tentu saja banyak sekali harapan dan ucapan Selamat Hari Pers Nasional untuk para pers yang ada di Indonesia.

Kehidupan dunia pers memang sering dipenuhi pro dan kontra. Meski saat ini sudah ada peraturan Undang-Undang yang sudah jelas mengatur tentang pers dan ITE namun masih sering terjadi pelanggaran tentang pers itu sendiri.

Masih sering dijumpai pemberitaan yang bisa dikatakan palsu atau hoax. Mirisnya pemberitaan itu disampaikan oleh para pers yang kurang bertanggung jawab.

Tak hanya itu saja, bahkan beberapa kasus seperti, pemukulan bahkan pembunuhan pers dan Laporan yang tidak terimah di kritik yang berujung penangkapan pers pun masih saja terjadi hingga saat ini. yang lebih mencengangka lagi perlakuan diskriminasi tersebut dilakukan oleh aparatur negara.

Seperi yang di alami Muhammad Asrul (34 tahun), wartawan media online berita.news ditangkap dan ditahan polisi atas sebuah laporan pemberitaan.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, berdasarkan surat perintah penyidikan dan penahanan Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan per 29 Januari 2020.

Asrul mendekam di tahanan Polda sejak 29 Januari, karena diduga telah melakukan tindak pidana dengan sengaja menyebarkan informasi atau berita bohong melalui media online dan juga yang disebar di sejumlah akun media sosial.

Asrul dilaporkan Farid Kasim Judas atas pemberitaan di berita.news terkait sejumlah kasus dugaan korupsi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, dimuat oleh media online itu pada Mei lalu.

Farid Kasim yang diketahui putra Wali Kota Palopo, HM Judas Amir, dan merupakan seorang pejabat di lingkup Pemerintah Kota Palopo.

Asrul terancam dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Tidak hanya asrul mengalaminya tapi di buton tengah juga di alami oleh wartawan Liputanpersda.com Moh Sadli Saleh setelah Memberitakan terkait pembangunan di buteng.

MOH SADLI SALEH WARTAWAN LIPUTANPERSADA.CO

Tak terimah dikeritik Bupati Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Samahudin, S.E., pidanakan Muh. Sadli Saleh, seorang wartawan liputanpersada.com yang bertugas di Kabupaten Buteng.

Tulisan Sadli yang berjudul “Abracadabra: Simpang Lima Labungkari Disulap Menjadi Simpang Empat” dianggap oleh Bupati Buteng telah mencemarkan nama baik instansi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buteng.

Dalam tulisannya, Sadli menulis terkait penataan Simpang Lima Labungkari diduga tidak sesuai dengan prosedur. Yang mana dari hasil pekerjaan tersebut saat ini berbentuk Simpang Empat.

Bupati Buteng kemudian memerintahkan Kabag Hukum Sekda Buteng, Akhmad Sabir, S.H. alias La Bongkara, dan dua orang lainnya untuk melaporkan pemberitaan tersebut ke pihak kepolisian.

Dalam penanganan kasus ini, pihak penyidik Satuan Reskrim Polres Baubau menetapkan Moh. Sodli Saleh alias M. Sadli Saleh Bin H. Saleh sebagai tersangka.

Dan dijerat, pertama, dengan pasal 45 A ayat 2 Jo pasal 28 ayat 2, kedua, atau pasal 45 ayat 3 jo pasal 27 ayat 3 UU nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Oleh karena itu, adanya Hari Pers Nasional (HPN) juga digunakan sebagai wajah bagi para pers agar tetap bisa mendapatkan keadilan serta melaksanakan tanggung jawabnya untuk bisa membuat berita yang sesuai dengan kenyataan.

“Untuk para teman-teman jurnalis yang ada di Tanah Air, Semoga keadilan selalu berpihak kepada yang benar dan kalian bisa memberitakan apa yang benar-benar terjadi kepada bangsa ini”

Dunia pers memiliki bagian yang sangat penting dalam kemajuan bangsa ini. Oleh karena itu, setiap apa yang terjadi di Indonesia selalu menjadi sorotan bagi para warganya.

Memberikan berita yang benar dan sesuai dengan kenyataan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh para wartawan dan jurnalis.

Terkadang, sebuah pemberitaan yang kurang dipertanggung jawabkan keasliannya juga bisa menjadi pemecah keutuhan bangsa Indonesia sendiri.

Oleh karena itu, banyak sekali masyarakat yang berharap bahwa pers bisa memberikan berita yang seasli-aslinya dan sejelas-jelasnya.

“Majulah Pers Indonesia sebagai Pilar keempat, Tetaplah junjung demokrasi dan kemajuan negara ini.

Pers juga bisa dikatakan sebagai pilar keempat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti yang telah diketahui, pilar keempat ini sendiri ialah Demokrasi, setelah adanya Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

Meskipun pers berada diluar sistem politik, namun keberadaan pers ini memiliki posisi yang sangat strategis untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Tak hanya itu, pers juga digunakan sebagai pendidikan untuk publik dan juga menjadi alat kontrol sosial. Tak heran, jika kehadiran pers saat ini juga sangat diharapkan oleh beberapa pihak untuk bisa mempersatukan perpecahan yang terjadi di beberapa daerah.

Pastinya Masyarakat Indonesia berharap untuk kemajuan dunia pers. “Pers Cerdas, Bangsapun Cerdas.”

“Selamat Hari Pers Nasional”

Penulis : Mulyawan

Pemimpin Redaksi

kartumerahnews.com

Pos terkait