Kisah Jembatan Kayu Reot di Manado, Makan Puluhan Korban, Warga Harap Perhatian dari Wali Kota Baru

kartumerahnews.com – Dua orang bocah perempuan meniti jalan di atas jembatan kayu reyot di atas DAS TondanoSenin (10/5/2021) pagi.

Jembatan itu menghubungkan Kelurahan Kairagi Weru dan Kairagi 1 Manado, Kecamatan Kairagi ManadoProvinsi Sulut
Dua bocah itu dari Kairagi Weru.

Hendak menuju nenek salah seorang diantaranya di Kelurahan Kairagi 1.

Langkah dua bocah itu pelan, hati – hati, sesekali berpegangan pada tali jembatan. 

Wulan salah satu bocah menuturkan, sehari dua kali ia lewat jembatan itu. 

“Saya lewat sini kalau mau ke rumah nenek,” kata dia Senin (10/5/2021) di depan jembatan. 

Tidak takut?  “Ya memang awalnya takut. Dulu saya sering diantar ibu. Kini saya sudah bisa jalan sendiri,” kata bocah berusia 10 tahun ini. 

Topan salah satu warga menuturkan jalan itu jadi akses utama warga. 

Ada jalan satu lagi, tapi tak sembarang dilewati. 

“Ada tapi harus lewat pos angkatan laut,” katanya. 

Sebut dia, sudah tak terhitung lagi warga yang jatuh dari jembatan itu. 

Ia ingat, seorang ibu pernah jatuh ke air saat ke ibadah kolom.

“Ia pegang Alkitab, untungnya selamat,” kata dia. 

Ia mengatakan, sudah banyak pejabat yang datang ke sana dan mengucapkan janji perbaikan. 

Bahkan Wali Kota Manado GSVL pernah datang dua kali.

“Sekali ia pernah datang kemari dan makan langsa bersama kami tapi tak ada perubahan,” ujar dia. 

Linda Papansa minta Walikota baru Andrei Angouw dan Wawali Richard Sualang memperbaiki jembatan itu.

“Kami harap ada perhatian dari pemimpin baru. Disini banyak anak anak yang lewat,” kata dia. 

Jembatan reyot dan sempit yang terbuat dari bambu dan kayu sepanjang 25 meter itu menggantung di atas DAS Tondano.

Jembatan darurat itu menjadi satu-satunya akses warga Lingkungan V, Kairagi WeruManado keluar dari permukiman menuju sekolah, tempat bekerja, pasar dan aktivitas lainnya.

Bahkan, jembatan itu juga menjadi satu-satunya akses warga menggotong peti jenazah untuk melaksanakan pemakaman ketika ada warga setempat meninggal dunia.

Rudi, seorang warga Lingkungan V, Kiragi Weru, Manado mengatakan, jembatan tersebut sering dilalui iring-iringan pengiring jenazah dari Kairagi Weru menuju pekuburan Kairagi.

 Warga tak punya pilihan lain karena jembatan itu satu-satunya jalan menuju ke luar pemukiman.

“Di permukiman tak ada kuburan, satu satunya kuburan berada di seberang jalan Manado– Bitung,” katanya.

Dikatakan Rudi, para pembawa peti jenazah tak boleh terlalu banyak karena jembatan sangat sempit.

Yang dipilih adalah mereka yang bertenaga kuat dan pemberani.

“Memang tidak mudah karena mereka memikul jenazah di atas jembatan yang bisa saja sewaktu-waktu roboh,” kata dia.

Para pembawa jenazah masih perlu merapatkan tubuh ke peti jenazah saat melewati bagian jembatan yang sangat sempit.

Cobaan bagi pembawa peti jenazah datang bertubi tubi. Angin keras bisa tiba-tiba berembus. Belum lagi teror dari bunyi derak yang terdengar di dasar jembatan.

Bersamaan dengan itu, sejumlah penggotong peti jenazah sering merasakan peti jenazah tiba- tiba menjadi sangat berat.

“Jika begitu mereka bernyanyi-nyanyi untuk menguatkan diri,” kata dia.

Sejumlah warga mengatakan, sudah lama mereka menggunakan jembatan gantung.

Jembatan kali ini adalah yang ketiga dibangun.

“Yang pertama dipindah karena terlalu dekat dengan air sungai. Jembatan kedua hancur saat banjir lalu, dan yang ini sudah reyot tapi kita belum kerja bakti,” ungkap warga lainnya, Reni.

Menurut Reni, pemerintah sudah berulangkali berjanji memperbaiki jembatan. Namun hingga kini belum ada realisasi.

Dinas Pekerjaan Umum Kota Manado melalui Kepala Seksi Jembatanm Jeremi Waleleng mengaku pihaknya sudah merencanakan pembangunan jembatan yang melintasi DAS Tondano untuk warga Lingkungan V, Kelurahan Kairagi Weru.

Dana untuk pembangunan sudah tersedia yakni Rp 1 miliar. Namun, pembangunan jembatan tersebut masih terhalang pembebasan lahan.

Sumber: TribunManado

Pos terkait