Kasus “Siri” Gadis Remaja, Tewas di Tangan Saudaranya, Begini Penjelasan Polisi

Kapolres Bantaeng AKBP Wawan Sumantri Saat Melakukan Conference Press

Kartumerahnews.com – Kapolres Bantaeng, AKBP Wawan Sumantri mengungkap kasus pembunuhan yang melibatkan satu keluarga di Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng

Dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2020), Kapolres Bantaeng menyampaikan, pelaku yang berhasil diamankan sebanyak sembilan

Dari kesembilan anggota keluarga orang yang diamankan terdri dari orangtua dan saudara korban Rosmini (16)

Mereka di antaranya, Darwis bin Daga (50) (Kepala Keluarga), Anis binti Kr. Pato (50) (Istri dari Darwis), Rahman bin Darwis (30) (Anak pertama), Hastuti binti Darwis (28) (Anak kedua), selanjutnya

Nurlinda binti Darwis (21) (Anak ketiga), Anto bin Darwis (20) (Anak keempat), Suci binti Darwis (14) (Anak keenam), kemudian

Ardi Jumasing bin Jumasing (40) (Menantu Darwis/Istri Nurlinda), Rusni binti Amiruddin (24) (Menantu Darwis/Suami Rahman)

Dari hasil pemeriksaan ke sembilan orang yang diamankan tersebut, penyidik menetapkan dua orang kakak korban sebagai tersangka

“Rahman dan Surianto. Kedua saudara korban ini ditetapkan sebagai tersangka dalam mengeksekusi korban Ros hingga mengakibatkan meninggal dunia” kata Kapolres Bantaeng, Rabu (13/5/2020)

Adapun kronologi kejadian ini, Wawan Sumantri menyampaikan, kasus ini bermula pada Sabtu (9/5/2020) sekira pukul 11.30 Wita

Rahman dan Surianto pada saat itu mencegat Rifandi Iskandar saat mengenderai sepeda motor di depan rumah orang tua Rahman

Rifandi kemudian disandera dengan tujuan untuk dinikahkan dengan korban Rosmini, akan tetapi ditolak halus oleh Rifandi.

Alasan Rifandi menolak Rosmini lantaran korban masih kecil

Korban Rosmini kemudian menderita sakit, bahkan dia muntah-muntah, dan sering kesurupan

Pada Sabtu (9/5/2020), sekira pukul 09.00 Wita, Usman alias Sumang datang ke rumah omnya yakni Darwis, karena mendengar kabar Rosmini sedang menderita sakit

Satu keluarga ini pun berkumpul, kemudian di teras rumah ada Saenal. Saudara Saenal dipanggil masuk ke dalam namun menolak  

Saat Usman datang dan disusul Rahmat (Ipar Usman). Rahman meminta keduanya naik ke atas rumah. Namun Rahmat pulang

Setelah Rahmat pulang, Rahman menuduh Usman telah mengguna gunai Rosmini.

Rahman marah dan memukul kepala Usman dengan kayu Somba. Usman kemudian lari meninggalkan rumah tersebut

Rahman dan Surianto pun mengejarnya hingga kedepan rumah Usman dan sempat Rahman menikam dan mengenai telinga Usman

Selanjutnya, Usman berhasil kabur dengan cara masuk ke rumahnya. Ketika tidak berhasil mendaptkan Usman

Kemudian Rahman melihat Saenal yang kebetulan melintas di depan rumah Usman dengan menggunakan sepeda motor

Rahman kemudian melakukan penganiayaan terhadap Saenal dengan cara memarangi kepala dan jari Saenal

Seanal berhasil melarikan diri setelah Surianto menahan Rahman. Hastuti dan Surianto kemudian dipanggil kembali ke rumah Darwis.

Saat ketiganya, Hasstuti, Surianto, dan Rahman berdiri di jalanan depan rumah Darwis sekira pukul 11.30 Wita

Rifaldi yang melintas saat itu dengan menggunakan sepeda motornya dengan tujuan mendatangi rumah Kepala Desa

Rahman bersama Surianto mencegat Rifaldi, kemudian Rifaldi disuruh untuk naik ke atas rumah Darwis

Saat Rifaldi naik ke atas rumah, Rahman kembali ke teras rumah, dimana di teras rumah ada Surianto dan Hastuti.

Di teras rumah tersebut, ketiganya berteriak marah karena menuduh ada yang mengguna-gunai adik mereka yang bernama Rosmini

Saat pihak kepolisian datang, polisi meminta agar Rifaldi Iskandar dilepas, namun Rahman tidak bersedia, sehingga pihak kepolisian menembakkan gas air mata ke teras rumah Darwis

Rahman bersama Surianto dan Hastuti masuk ke dalam rumah. Rahman pun mengunci pintu rumah dari dalam, dan kembali bergabung dengan lainnya untuk membaca shalawat.

Sekira pukul 15.00 Wita, pihak kepolisian menembakkan gas air mata kedua, ke ruang tamu rumah Darwis

Rahman memerintahkan semua penghuni rumah berpindah dari ruang tamu ke kamar, di bagian belakang rumah

Saat berada di dalam kamar, Rahman menyuruh Rifaldi untuk menikahi Rosmini, namun ditolak oleh Rifaldi dengan alasan korban masih kecil  

Beberapa waktu kemudian, ada kegiatan masyarakat di luar yang berusaha menurunkan dinding bagian atas rumah

Kemudian Rahman bertanya kepada orangtuanya Darwis, apakah ikhlas jika Rosmini dibunuh karena telah membuat malu. Dan Darwis mengatakan ikhlas

Setelah itu, Rahman menyuruh semua keluarganya yang ada di dalam kamar untuk naik ke atas tempat tidur, termasuk juga Rifaldi naik ke atas tempat tidur

Di lantai kamar tinggal Rosmini yang berbaring di lantai, dengan Rahman duduk di kepalanya, sambil tangannya memegang sebilah parang, sedangkan Surianto berdiri di dekatnya

Setelah itu Rahman menyuruh mereka menutup mata dan tetap shalawat, lalu Rahman mulai menebas leher punggung tangan dan wajah Rosmini

Sementara Surianto memukul menggunakan kayu, lalu menutupi tubuh korban dengan selimut berwarna biru

Selanjutnya, setelah melakukan pembunuhan, Rifaldi disuruh keluar dari kamar, lalu disusul Hastuti dan keluarga lainnya yang kembali kumpul di ruang tamu

Tidak lama kemudian, pihak aparat kepolisian masuk menerobos dan mengamankan seluruh keluarga dari Darwis di Polres Bantaeng

Adapun barang bukti yang diamankan yakni, satu buah Parang panjang, sarung dan baju yang digunakan oleh Rahman dan satu buah kayu

Atas perbuatan pelaku, mereka diganjar Pasal 80 Ayat 3 Jo. Pasal 76C UU No 35 Tahun 2014 Tentang Perubahahan atas UU No 23 Tahun Tentang Perlindungan Anak atau Pasal 340 KUHP Subsider Pasal 338 KUHP Jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1, kE-2, Pasal 56 Ayat 1, 2 KUHP

Kapolres menambahkan, untuk anggota keluarga lainnya yang tidak ditetapkan sebagai tersangka tidak dilakukan penahanan

Namun tetap diamankan di Polres Bantaeng untuk mempermudah proses pemeriksaan dan juga untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan.

Sementara dari hasil pemeriksaan Psikiater terhadap kesembilan orang diperiksa, hasilnya dalam keadaan sehat kejiawaannya

“Kecuali Anis ibu korban, dia mengalami gejala atau gangguan jiwa berat namun didapatkan tanpa dan gejala episode depresi yang dapat diperiksa lebih lanjut” pungkasnya

(Sewang)

Related posts