Aktivis dan Alumni Kecam Sikap Arogan Rektor Bina Darma

Aktivis dan Alumni Kecam Sikap Arogan Rektor Bina Darma

Bacaan Lainnya

Palembang,( Kartumerahnews.com) – Sejumlah aktivis dan Alumni Universitas Bina Darma Palembang mengecam sikap arogan dan kesewenang wenangan Rektor Bina Darma Palembang,Sunda Ariana terhadap beberapa orang Dosen.

     “Kami mengecam sikap Rektor, yang sewenang wenang terhadap beberapa orang dosen ” ujar Arif Rido salah seorang Alumni Universitas Bina Darma dalam orasinya saat berunjuk rasa didepan Kampus Utama Universitas Bina Darma Palembang.Sejumlah aktivis dan beberapa Alumni Universitas Bina Darma yg tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Pendidikan melakukan aksi demonstrasi didepan Kampus Utama Universitas Bina Darma jln A.yani Palembang,Senin (28/6).Mereka menuntut Rektor UBD utk memperhatikan hak hak dosen,jangan melakukan sewenang wenang,laksanakan UUD nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.” Bila  Rektor mengabaikan tuntutan ini,kami akan melakukan demo besar2 an ” kata Arif.

   Menurut Koordinator Aksi,Reza Mao,selama ini ada beberapa dosen dilingkungan Universitas Bina Darma Palembang dicopot oleh Rektor,yang pesangonnya berlarut larut.Padahal,Undang Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 mengatur secara umum mengenai tata cara pemberian imbalan perusahaan,mulai dari imbalan istirahat panjang sampai dengan imbalan pemutusan hububungan kerja serta berhak memperoleh imbalan kerja yang akan dibayarkan dimasa depan ( dana pensiun ).Beberapa orang Dosen yg diberhentikn tersebut pernah melapor ke Disnakertrans Palembang,namun sampai saat ini blm ada kejelasan.” Ini ada apa ” ujar Reza berapi api. Kemudian, tanggal 24 Juni 2021, dua orang dosen yang diberhentikan tersebut masing masing Prof DR Priyono MM dan DR.H.Lin Syah melapor ke Disnakertrans Sumsel. Hal ini menjawab tantangan Kepala Disnakertrans Sumsel, Khoimudin, saat menerima Perwakilan pengunjuk rasa dari Forum Masyarakat Peduli pendidikan (Senin 21/6) yang meminta agar  dosen yang merasa dirugikan segera melapor ke pihaknya.

    Selain itu, kata Reza, sikap kesewenang wenang itu diantaranya adalah dua orang dosen yang tidak dibayarkan gajinya, beberapa orang dosen digaji hanya satu juta rupiah perbulan. Adanya sikap diskriminatif terhadap dosen. Ada dosen yang diberikan tunjangan khusus, dan yang lain tidak. Ironisnya, salah seorang dosen yang bernama Ali Kasim yang meninggal tidak diberikan pesangon.

     Sementara itu, Ardi, salah seorang aktivis buruh mengungkapkan, Undang Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, khususnya pasal 167 yang mengisyaratkan setiap perusahaan wajib membayar pesangon karyawan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.”Nah, apa yang dilakukan Rektor UBD itu sudah melanggar Undang Undang ” ujarnya.   Menurutnya, bisnis perusahaan yang terus tumbuh harus dibarengi dengan peningkatan hak hak pekerja, seperti upah, asuransi karyawan, jaminan pensiun, dan dana pesangon. Setiap perusahaan dihimbau untuk menyiapkan dana pesangon bagi karyawan. Hal ini sebagi antisipasi atas kewajiban pembayaran pasca kerja karyawan, baik karena phk, pensiun, maupun meninggal dunia. Ketersediaan pesangon dipastikan dapat mengurangi perselisihan yang terjadi diantara perusahaan dengan pekerja. Pertanyaannya adalah, apakah hal ini diterapkan di Universitas Bina Darma, kata Ardi.

      Dari pantauan Wartawan, akibat Aksi unjuk rasa itu membuat macet jalan A Yani. Polisi yang mengatur jalannya aksi sempat kewalahan. Kemudian peserta aksi diarahkan ke jalan samping Kampus Bina Darma. Koordinator aksi sempat bersitegang dengan pembicara UBD, Anton Nurden yang menuding aksi tersebut mengganggu aktivitas kampus dan civitas kampus. Anton merasa gerah dengan beberapa aksi. Pihak kampus mengutus Wakil Rektor Hendri Zainuden untuk berdialog, namun ditolak.” Kami hanya menyampaikan pernyataan sikap,” ujar Reza sembari menyerahkan pernyataan sikap. Salah seorang dosen yang memantau jalannya aksi, yang tak mau namanya disebutkan, membenarkan memang sikap kesewenang wenangan Rektor.” Itu benar benar tidak manusiawi,” ujarnya geram.(rd)

Pos terkait